Pemilik Kapal Pukat Trawl yang Diduga Dibakar Nelayan di Sergai, Enggan Melapor ke Polisi

KAMERABERITA.COM Guna mencari kebenaran informasi dari saksi mata yang melihat kejadian dibakarnya kapal pukat trawl di Desa Bagan Kuala Tanjung Beringin Serdangbedagai (Sergai), sejumlah awak media mencoba menelusuri langsung keberadaan daripada kapten kapal dan Anak Buah Kapal (ABK) naas tersebut dengan mendatangi daerah Pagurawan Kabupaten Batubara.

Kamis (29/3) sekira pukul 20:40 WIB Setibanya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pagurawan, awak media bertanya kepada warga sekitar, apakah benar ada salah satu kapal milik warga Pagurawan yang dibakar di Desa Bagankuala Tanjungberingin Sergai. Ternyata, warga sekitar membenarkannya dan mengarahkan awak media menuju ke rumah pemilik kapal tersebut yang diketahui berinisial M (36).

Saat awak media mengunjungi kediaman M, dirinya mengakui bahwasanya kapal yang dibakar itu miliknya. Diceritakan, awalnya pada Kamis (28/3) subuh, dirinya bertemu dengan kapten kapal berinisial J alias E (28) dan ABK berinisial A alias P (40). M juga mengaku bahwa J dan A baru pertama kali membawa kapal miliknya untuk pergi melaut.”Subuh itu, saya beri uang untuk bekal makan keduanya pergi melaut,” ujarnya.

Namun, sekira pukul 09.30 WIB, M mendapat telepon dari A bahwa keduanya telah ditangkap nelayan. Dia juga mengungkapkan bahwa A menelepon memakai nomor Handphone yang sebelumnya tak dikenalnya.”Saat itu A menelepon saya. Bah, kami udah kono (ditangkap),” sebut M menirukan pembicaraan A terhadap dirinya dihadapan awak media.

Awalnya, M mengira bahwa mereka mendapatkan hasil tangkapan ikan yang banyak. Namun, M salah persepsi, ternyata kapten kapal dan ABK sudah ditahan sekitar 20 hingga 30 nelayan tradisional dan kapalnya sudah dibakar. Bahkan, sambung M, menurut pengakuan ABK, keduanya hendak dihakimi nelayan tradisional. Dari penuturan A pula, awalnya mereka ditangkap di tengah laut para nelayan tradisional itu sudah membawa bensin dan dibawa ke tepi pantai untuk selanjutnya kapal pukat trawl naas itu dibakar.

“Usai ditelepon itu saya tak tahu lagi dimana keberadaan J dan A. Nomor Handphonenya pun saya tak punya. Alamatnya juga saya tidak tahu, karena keduanya, baru saya kenal subuh itu. Apalagi pelaku pembakaran, saya tidak tahu siapa yang membakarnya. Saya saja mendapat informasi dari sambungan telepon, karena saya tidak di lokasi waktu kejadian berlangsung,” terang M.

Saat disinggung awak media, apakah pihaknya akan melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian, M mengaku masih mengurungkan niatnya melakukan hal tersebut. M mengatakan, bahwa akibat peristiwa itu dirinya mengalami kerugian hampir Rp50 juta. Sementara, untuk ongkos transportasi saja dirinya mengaku sudah tak memiliki uang.

“Saat ini, untuk uang ke sana ke mari saja saya tak punya. Melaporkan itu kan harus ke Polres, Polsek, Polair Sergai ataupun yang Polair Belawan. Sementara jarak dari Pagurawan ke tempat melaporkan itu jauh. Untuk ongkos minyak sepedamotor saya saja, saya sudah kehabisan uang, Bang. Konon lagi mau melapor,” pungkasnya.

Diakhir wawancara, pria tiga anak yang mengaku tak pandai melaut itu hanya bisa pasrah akibat kejadian itu.”Ya, mau bagaimana lagi. Ini mungkin sudah takdir. Saya hanya ingin maju seperti nelayan-nelayan lain yang menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Bahkan, kami (pemilik kapal) nekat-nekatan meminjam uang ke bank untuk membeli kapal supaya hidup kami lebih maju lagi,” beber M menutup.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, satu unit kapal pukat trawl ludes terbakar di Desa Bagankuala Tanjungberingin Sergai. Kuat dugaan, pembakaran yang diduga dilakukan nelayan tradisional itu akibat dari kapal pukat trawl kerap beroperasi di perairan Sergai.

Salah seorang warga yang tak ingin namanya ditulis, kepada wartawan mengungkapkan bahwa awalnya, sekira 20 sampai 30 nelayan kecil tradisional, terpancing amarahnya akibat melihat kembali kapal pukat trawl melancarkan aksinya menangkap ikan. Beruntung, seorang kapten kapal dan ABK berhasil meloloskan diri dari amuk nelayan tradisional. Namun, baik warga ataupun kepala desa, tidak ada yang tahu siapa dan dimana alamat dari kapten kapal dan ABK maupun yang membakar kapal.

Kapolres Sergai AKBP. Juliarman EP melalui kasat Pol Air Polres Sergai IPTU. Candra Situmorang mengatakan saat kejadian nelayan tradisional Sergai tidak ada yang melaut dan saat kejadian pihak Pol Air yang turun ke lokasi tidak menemukan tekong kapal dan ABK yang seharusnya melapor ke Polisi Air Polres Sergai. (Budiono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *